Ahad, 20 April 2008
"Teladan???!!!...Can I???"
Suatu saat, di suatu rumah makan yang berlokasi di puncrut, serombongan mahasiswa merayakan keberhasilannya menyelenggarakan sebuah kegiatan.
Di tengah2 acara, aku mengambil bandrek yang sengaja disediakan oleh rumah makan.
Waktu itu hujan, dan aku sampai ke Puncrut dengan basah kuyup karena mengendarai sepeda motor, sedangkan yang lain beranngkat dengan menggunakan mobil.
Saat itu, yang kupikirkan hanya cara untuk menghangatkan tubuh.
Begitu bandrek aku ambil, aku berdiri dan menempelkan bibir gelas yang hangat ke bibirku, sambil berdiri.
Tiba2, sesorang dibelakangku berteriak, "Kak, sambil duduk dong kak...Supervisor tuh harus ngasih teladan dong".
Hatiku tergetar, mendengar kata "teladan".
Akhirnya aku duduk, dan setelah selesai meneguk bandrek tadi, aku berbalik dan bilang, "Aduh...maaf ya, kk bukan orang yang bisa diteladani".
Hhhh...
Hal yang paling memberatkan hatiku saat mengajukan lamaran untuk jadi supervisor sebuah beastudi adalah "Apakah aku bisa menjadi teladan buat adik2 yang aku bimbing???"
Menjadi teladan itu sungguh berat, padahal gak ada dijob-desknya supervisor.
Apa aku harus berubah jadi orang yang bener2 alim untuk jadi teladan???
Apa aku harus mengubah diri menjadi orang yang pendiam supaya terlihat berwibawa untuk bisa diteladani???
Awww...Man, that's so stupid!!!
Bagaimanapun, memberi teladan adalah penting.
Tapi, apa harus sampai merubah diri???
NON SENSE...!!!
Itu cuma ngajarin mereka sebuah kebohongan!!
Aku akan tetap jadi diriku seperti biasa.
Jadi Wahyu yang aku tahu setiap harinya.
Aku akan lihat, teladan apa yang mereka bisa ambil dariku.
Dengan itu, aku akan tahu sejauhmana kapasitas diriku sekarang.
"Teladan???!!!...Can I???"
Suatu saat, di suatu rumah makan yang berlokasi di puncrut, serombongan mahasiswa merayakan keberhasilannya menyelenggarakan sebuah kegiatan.
Di tengah2 acara, aku mengambil bandrek yang sengaja disediakan oleh rumah makan.
Waktu itu hujan, dan aku sampai ke Puncrut dengan basah kuyup karena mengendarai sepeda motor, sedangkan yang lain beranngkat dengan menggunakan mobil.
Saat itu, yang kupikirkan hanya cara untuk menghangatkan tubuh.
Begitu bandrek aku ambil, aku berdiri dan menempelkan bibir gelas yang hangat ke bibirku, sambil berdiri.
Tiba2, sesorang dibelakangku berteriak, "Kak, sambil duduk dong kak...Supervisor tuh harus ngasih teladan dong".
Hatiku tergetar, mendengar kata "teladan".
Akhirnya aku duduk, dan setelah selesai meneguk bandrek tadi, aku berbalik dan bilang, "Aduh...maaf ya, kk bukan orang yang bisa diteladani".
Hhhh...
Hal yang paling memberatkan hatiku saat mengajukan lamaran untuk jadi supervisor sebuah beastudi adalah "Apakah aku bisa menjadi teladan buat adik2 yang aku bimbing???"
Menjadi teladan itu sungguh berat, padahal gak ada dijob-desknya supervisor.
Apa aku harus berubah jadi orang yang bener2 alim untuk jadi teladan???
Apa aku harus mengubah diri menjadi orang yang pendiam supaya terlihat berwibawa untuk bisa diteladani???
Awww...Man, that's so stupid!!!
Bagaimanapun, memberi teladan adalah penting.
Tapi, apa harus sampai merubah diri???
NON SENSE...!!!
Itu cuma ngajarin mereka sebuah kebohongan!!
Aku akan tetap jadi diriku seperti biasa.
Jadi Wahyu yang aku tahu setiap harinya.
Aku akan lihat, teladan apa yang mereka bisa ambil dariku.
Dengan itu, aku akan tahu sejauhmana kapasitas diriku sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar