
Kamis, 1 Mei 2008
Bertepatan dengan Hari Buruh internasional, urang riweuh ngurusan seleksi Etos.
Setresss...ngeluh...emosi...mulai tuh pada keluar.
Sampai akhirnya, aku datang ke sebuah tempat di mana aku diajari sesuatu yang berharga.
Simaklah kisah berikut ini.
Pukul 18:30 WIB
Berangkatlah serombongan pria menyibak kegelapan malam. Ada yang pake baju koko, ada yang cuma pake kaos oblong. Ada juga yang pake sarung.
Aku orang yang pake kaos oblong dilapisi dengan sweater abu-abu. Delapan pria ini sedang bergerak dari kegelapan demi kegelapan menuju cahaya.
Dari Dago, kami menuju Daarut Tauhid untuk mengikuti pengajian Ma'rifatullah bersama Aa Gym.
Pukul 19:10
Sesampai di Daarut Tauhid, sedang dilangsungkan shalat Isya. Jama'ah sampai meluber ke jalan diseberang Masjid.
Kami kebagian shaf terakhir, dan masbuk -ketinggalan 2 raka'at.
Pukul 19:30
Seusai shalat, kami bergerak mencari tempat yang enak. Kami duduk di dekat layar tancep yang sengaja di pasang untuk para jama'ah yang tidak kebagian tempat di dalam Masjid.
Kemudian, disambung dengan pembacaan istighfar, shalawat, dan Asmaul Husna oleh seseorang yang tidak kelihatan, tapi suaranya keras -ya iya-lah, orangnya di dalem Masjid, suaranya keras pake pengeras soalnya-
Subhanallah...Asmaul Husna yang dibacakan itu membuat hatiku terenyuh. Nikmat sekali mendengarkannya.
Pembacaan diulangi sekali lagi. Kali ini, hampir semua jama'ah mengikuti bacaan orang yang pake pengeras suara.
Aku pun mengikuti bacaannya. Sampai akhirnya aku merasa sedih karena aku tidak bisa mengikuti seluruh bacaan Asmaul Husna...Astagfhirullah.
Pukul 20:00
Muncullah Aa Gym di layar. Sayang, lampu di tempat aku duduk dipadamkan, jadi aku gak bisa nulis2.
Sejak saat itu, aku diajarkan tentang syukur. Beliau menerangkan apa sih syukur itu,
Syukur adalah,
Menyadari bahwa segala nikmat itu Allah yang mendatangkannya
Meyakini bahwa segala nikmat itu bukan milik kita, melainkan milik Allah
Berterima-kasih kepada orang2 yang menjadi perantara nikmat Allah kepada kita
Menggunakan nikmat Allah untuk menjadi lebih dekat dengan Allah
Menceritakan nikmat Allah kepada orang lain
Untuk poin yang ke lima, jangan tertukar dengan RIA.
Orang yang syukur itu, selalu fokus kepada Allah, sedangkan orang yang ria selalu fokus pada dirinya sendiri.
Orang yang syukur itu selalu berpikiran positif di keadaan sesulit apa pun.
Nikmat itu bukan hanya materi. Berikut ini adalah beberapa nikmat yang sering dilupakan untuk disyukuri,
Nikmat Keberanian untuk mengakui dosa, yang kemudian berujung ke Tobat. Jadi, bersyukurlah jika ada yang mengkritik kejelekan kita.
Nikmat dicegahnya dari perbuatan maksiat
Nikmat diberikan rasa taat kepada Allah
Nikmat dipilih oleh Allah untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain
Nah...
Kita selalu lupa bahwa segala nikmat yang kita miliki hanyalah milik Allah.
Kita ada di sini bukan karena adanya jaminan tabungan, atau penghasilan.
Tapi karena adanya jaminan Allah.
Bersyukurlah!!!
Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki saat ini...
Bertepatan dengan Hari Buruh internasional, urang riweuh ngurusan seleksi Etos.
Setresss...ngeluh...emosi...mulai tuh pada keluar.
Sampai akhirnya, aku datang ke sebuah tempat di mana aku diajari sesuatu yang berharga.
Simaklah kisah berikut ini.
Pukul 18:30 WIB
Berangkatlah serombongan pria menyibak kegelapan malam. Ada yang pake baju koko, ada yang cuma pake kaos oblong. Ada juga yang pake sarung.
Aku orang yang pake kaos oblong dilapisi dengan sweater abu-abu. Delapan pria ini sedang bergerak dari kegelapan demi kegelapan menuju cahaya.
Dari Dago, kami menuju Daarut Tauhid untuk mengikuti pengajian Ma'rifatullah bersama Aa Gym.
Pukul 19:10
Sesampai di Daarut Tauhid, sedang dilangsungkan shalat Isya. Jama'ah sampai meluber ke jalan diseberang Masjid.
Kami kebagian shaf terakhir, dan masbuk -ketinggalan 2 raka'at.
Pukul 19:30
Seusai shalat, kami bergerak mencari tempat yang enak. Kami duduk di dekat layar tancep yang sengaja di pasang untuk para jama'ah yang tidak kebagian tempat di dalam Masjid.
Kemudian, disambung dengan pembacaan istighfar, shalawat, dan Asmaul Husna oleh seseorang yang tidak kelihatan, tapi suaranya keras -ya iya-lah, orangnya di dalem Masjid, suaranya keras pake pengeras soalnya-
Subhanallah...Asmaul Husna yang dibacakan itu membuat hatiku terenyuh. Nikmat sekali mendengarkannya.
Pembacaan diulangi sekali lagi. Kali ini, hampir semua jama'ah mengikuti bacaan orang yang pake pengeras suara.
Aku pun mengikuti bacaannya. Sampai akhirnya aku merasa sedih karena aku tidak bisa mengikuti seluruh bacaan Asmaul Husna...Astagfhirullah.
Pukul 20:00
Muncullah Aa Gym di layar. Sayang, lampu di tempat aku duduk dipadamkan, jadi aku gak bisa nulis2.
Sejak saat itu, aku diajarkan tentang syukur. Beliau menerangkan apa sih syukur itu,
Syukur adalah,
Menyadari bahwa segala nikmat itu Allah yang mendatangkannya
Meyakini bahwa segala nikmat itu bukan milik kita, melainkan milik Allah
Berterima-kasih kepada orang2 yang menjadi perantara nikmat Allah kepada kita
Menggunakan nikmat Allah untuk menjadi lebih dekat dengan Allah
Menceritakan nikmat Allah kepada orang lain
Untuk poin yang ke lima, jangan tertukar dengan RIA.
Orang yang syukur itu, selalu fokus kepada Allah, sedangkan orang yang ria selalu fokus pada dirinya sendiri.
Orang yang syukur itu selalu berpikiran positif di keadaan sesulit apa pun.
Nikmat itu bukan hanya materi. Berikut ini adalah beberapa nikmat yang sering dilupakan untuk disyukuri,
Nikmat Keberanian untuk mengakui dosa, yang kemudian berujung ke Tobat. Jadi, bersyukurlah jika ada yang mengkritik kejelekan kita.
Nikmat dicegahnya dari perbuatan maksiat
Nikmat diberikan rasa taat kepada Allah
Nikmat dipilih oleh Allah untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain
Nah...
Kita selalu lupa bahwa segala nikmat yang kita miliki hanyalah milik Allah.
Kita ada di sini bukan karena adanya jaminan tabungan, atau penghasilan.
Tapi karena adanya jaminan Allah.
Bersyukurlah!!!
Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki saat ini...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar