
Jumat, 2 Mei 2008
Terjadi lagi perosalan yang sama.
Kali ini, aku berperan lagi jadi ketua pelaksana suatu kegiatan.
Dan lagi-lagi menghadapi masalah yang sama seperti yang lalu-lalu.
Masalah komitmen anggota.
Hhhh...kayaknya emang semua organisasi pasti ada masalah ini.
Anggota yang egois, hanya mementingkan diri sendiri,
Cuek, gak peduli sama anggota lain yang kerja,
Intinya, mereka gak punya empati !!!
Aku udah pernah nanya sekali, "siapa yang bisa bantuin saya???"
Bisu seribu bahasa.
Kesel banget, dicuekin.
Tapi ada beberapa orang yang akhirnya dengan sendirinya ngebantu juga.
Intinya gini sih, aku gak mengharapkan ada orang yang datang menolongku, atau istilahnya aku cuma nunggu dibantuin.
TIDAK !!!
Aku jadi tahu karakterku untuk memimpin sebuah organisasi yang susah2 anggotanya.
Sepertinya, aku cenderung untuk memilih orang yang akan aku ajak kerja bareng.
Aku milih hanya berdasarkan intuisi aja, tapi tidak jarang intuisiku bener.
Aku bisa klop sebagai tim dengan orang yang aku ajak.
Selain itu, aku gak terlalu suka memulai atau mengakhiri sesuatu secara formal, kayak rapat ato apalah.
Buatku, diskusi di depan TV juga cukup untuk menghasilkan keputusan.
Bahkan, dengan suasana santai seperti ngobrol gitu, aku bisa mengeksplor lebih banyak materi lagi.
Soalnya, kadang aku juga merasa bosen dengan acara2 rapat formal.
Yah, di dunia nyata nanti terutama dunia kerja, tentu aja aku gak bisa langsung milih orang untuk bekerja sama denganku.
Pasti rekan kerja itu dipilih sama atasan.
Tapi, karena orang yang dipilihin itu juga hasil seleksi kerja yang udah di tes kemampuan kerja samanya, ya sepertinya gak akan terlalu susah kerja sama.
Walaupun belum tentu gitu juga.
Sebagai default-nya, dengan siapa pun aku bekerja, maka aku akan make empati.
Aku akan memperlakukan orang sebagai orang.
Aku akan mencoba untuk mengerti daripada dimengerti.
Aku akan lebih banyak mendengarkan sebelum berbicara, supaya apa yang aku bicarakan tidak asal bunyi.
ITULAH EMPATI, KAWAN!!!
Terjadi lagi perosalan yang sama.
Kali ini, aku berperan lagi jadi ketua pelaksana suatu kegiatan.
Dan lagi-lagi menghadapi masalah yang sama seperti yang lalu-lalu.
Masalah komitmen anggota.
Hhhh...kayaknya emang semua organisasi pasti ada masalah ini.
Anggota yang egois, hanya mementingkan diri sendiri,
Cuek, gak peduli sama anggota lain yang kerja,
Intinya, mereka gak punya empati !!!
Aku udah pernah nanya sekali, "siapa yang bisa bantuin saya???"
Bisu seribu bahasa.
Kesel banget, dicuekin.
Tapi ada beberapa orang yang akhirnya dengan sendirinya ngebantu juga.
Intinya gini sih, aku gak mengharapkan ada orang yang datang menolongku, atau istilahnya aku cuma nunggu dibantuin.
TIDAK !!!
Aku jadi tahu karakterku untuk memimpin sebuah organisasi yang susah2 anggotanya.
Sepertinya, aku cenderung untuk memilih orang yang akan aku ajak kerja bareng.
Aku milih hanya berdasarkan intuisi aja, tapi tidak jarang intuisiku bener.
Aku bisa klop sebagai tim dengan orang yang aku ajak.
Selain itu, aku gak terlalu suka memulai atau mengakhiri sesuatu secara formal, kayak rapat ato apalah.
Buatku, diskusi di depan TV juga cukup untuk menghasilkan keputusan.
Bahkan, dengan suasana santai seperti ngobrol gitu, aku bisa mengeksplor lebih banyak materi lagi.
Soalnya, kadang aku juga merasa bosen dengan acara2 rapat formal.
Yah, di dunia nyata nanti terutama dunia kerja, tentu aja aku gak bisa langsung milih orang untuk bekerja sama denganku.
Pasti rekan kerja itu dipilih sama atasan.
Tapi, karena orang yang dipilihin itu juga hasil seleksi kerja yang udah di tes kemampuan kerja samanya, ya sepertinya gak akan terlalu susah kerja sama.
Walaupun belum tentu gitu juga.
Sebagai default-nya, dengan siapa pun aku bekerja, maka aku akan make empati.
Aku akan memperlakukan orang sebagai orang.
Aku akan mencoba untuk mengerti daripada dimengerti.
Aku akan lebih banyak mendengarkan sebelum berbicara, supaya apa yang aku bicarakan tidak asal bunyi.
ITULAH EMPATI, KAWAN!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar